3.14.2009

PROSPEK PASAR MODAL INDONESIA 2009

By : Jhonson A. Sutanto

Krisis Subrime mortgage pada medio 2007 yang terjadi di negeri Paman Sam telah memicu krisis ekonomi global. Puncaknya, pada September 2008 beberapa lembaga financial raksasa dunia mengumumkan kebangkrutannya. Selain di Amerika, krisis juga terjadi di kawasan Eropa. Di Inggris, Lembaga pembiayaan Sekaliber Northern Rock juga di ambang kebangkrutan dan memaksa pemerintah Inggris untuk melakukan financial rescue senilai ₤28 miliar. Limbungnya nama-nama besar dalam Industri Financial Dunia tersebut telah menimbulkan kepanikan luar biasa di kalangan investor, yang membuat indeks bursa Dow Jones merosot tajam. jika pada awal 2008, indeks Dow Jones berada pada level 13.056, nmaka pada 28 Oktober 2008 akibat tidak bergairahnya pasar, indeks Dow Jones terjerembab ke level 8.175 atau terkoreksi 37%. Hal yang sama juga menimpa indeks Nasdaq yang pada awal 2008 masih pada kisaran 2,600, pada 24 Oktober 2008 merosot tajam hingga 11,552 atau terkoreksi 40%.

Hal yang sama juga terjadi di Jepang, indeks Nikkei yang pada awal tahun berada di level 14,600 merosot ke level 7,621 pada 28 Oktober 2008 atau terkoreksi 47%. Demikian juga indeks Hang Seng, Hongkong turun dari 27,500 ke level 12,380 atau anjlok 55%. Bagaimana dengan bursa saham Indonesia? Tak pelak, nasib buruk juga menimpa Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejalan dengan kejatuhan Dow Jones, harga saham-saham di BEI juga berguguran sebagaiman terlihat dari penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG). IHSG yang pada awal 2008 memasuki masa ke-emasan pada level 2.830, akibat kepanikan investor indeks juga terjerembab ke level 1.174 pada 30 Oktober 2008 atau telah terkoreksi 59%.

Kejatuhan bursa dalam negeri sempat menyita perhatian pemerintah dan memandang perlu untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif guna menenangkan pasar yang semakin panik yakni dengan menutup bursa selama 3 hari dan memberlakukan auto rejection sebesar 10% untuk batas atas dan bawah sebagai antisipasi penurunan indeks lebih dalam. Bahkan pemerintah juga menyediakan dana sebesar Rp4 triliun yang disisihkan dari APBN untuk buy back saham-saham BUMN.

Kinerja Bursa Efek Indonesia

Sebelum badai krisis menghantam bursa Indonesia pada awal September 2008, kinerja BEI boleh dikatakan “mengkilap”. IHSG menunjukkan pertumbuhan positif, dari level 392 pada 2001 menjadi 1.805 pada 2006 dan kembali meningkat menjadi 2.745 pada 2007 atau tumbuh 52%. Sejalan dengan kenaikan IHSG, nilai kapitalisasi pasar rata-rata meningkat 121% per tahun, sebuah nilai yang mencerminkan gairah investasi yang luar biasa. Nilai traksaksi saham yang juga menggambarkan pundi-pundi pendapatan dari pelaku Pedagang Perantara Efek (PPE) sampai Oktober 2008, telah mencapai Rp926 triliun hampir menyamai nilai transaksi tahun 2007 sebesar Rp1.050 triliun. Artinya kegiatan bursa masih bergairah, rata-rata transaksi harian tercatat sebesar Rp4,8 triliun perhari. Penurunan indeks lebih cenderung berasal dari faktor psikologis investor dalam menyelamatkan nilai investasinya. Kondisi demikian terlihat jelas bahwa beberapa emiten BEI dengan fundamental baik (kinerja operasional maupun keuangan) juga tidak luput dari penurunan harga saham.

Kinerja Reksadana

Sementara itu kondisi yang sedikit melegakan terjadi pada kinerja reksadana. Krisis keuangan global yang berimbas pada penurunan IHSG tidak serta merta meluluh-lantahkan kinerja reksadana. Secara keseluruhan kinerja reksadana menurun, Nilai Aktiva Bersih (NAB) tertinggi sebesar Rp97 triliun pada Mei 2008 menurun menjadi Rp72 triliun pada 10 Oktober 2008 atau terkoreksi 26%. Menurunnya NAB lebih disebabkan oleh menurunnya IHSG khususnya pada produk reksadana saham atau reksadana campuran dan bukan semata-mata kasus redemption. Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada September 2008 tingkat redemption sebesar Rp6,5 triliun sedangkan tingkat subscription sebesar Rp7,1 triliun dan pada 10 Oktober 2008 redemption sebesar Rp1,7 triliun dan subscription sebesar Rp1,3 triliun.

Prospek Pasar Modal Indonesia 2009

Di tengah kondisi pasar keuangan global yang tidak menentu yang hingga kini belum ada tanda-tanda kapan krisis keuangan segera berakhir, tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan kapan penurunan harga saham akan menyentuh titik balik. Bahkan seorang analis hebat-pun tidak akan pernah tahu dengan pasti kapan harga saham telah mencapai bottom price. Meskipun demikian pasar modal tak akan pernah ditinggalkan investor, ibarat koin selalu ada sisi yang berbeda. Ketika sejumlah investor pull out di pasar dengan asumsi market sedang tidak bagus dan harga saham terus menurun, akan menjadi kesempatan bagi investor lainnya yang berorientasi jangka panjang untuk membeli saham-saham yang dianggap murah. Jadi kepanikan dan sikap irasionalitas sejumlah investor saat harga turun akan menjadi berkah bagi investor lainnya yang bersikap tenang dan berorientasi jangka panjang.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana nasib pasar modal Indonesia tahun 2009? Berdasarkan analisis, kondisi pasar modal 2009 diproyeksikan akan tetap tumbuh, namun tidak sebesar prestasi puncak 2008 dengan indeks mencapai 2.830. Sangat sulit untuk mengerek indeks pada level tersebut dengan pertimbangan, pertama sejumlah investor masih wait and see sampai kondisi benar-benar pulih dan kondusif. Kedua, dengan tingkat suku bunga perbankan yang tinggi dan paket penjaminan dana simpanan mencapai Rp2 miliar atau 20 kali lipat dari kebijakan sebelumnya, mendorong sejumlah investor untuk mengalihkan dananya ke perbankan yang dinilai lebih pasti dan aman. Ketiga, tahun 2009 akan diselenggarakan kegiatan pemilu menjelang akhir tahun, biasanya pelaku pasar modal akan menunggu apakah pemilu berjalan lancar dan damai hingga terbentuknya pemerintahan baru, sebab jika tidak, akan timbul gejolak yang berpengaruh jauh lebih buruk pada pasar modal.

Hingga saat ini, kondisi pasar modal masih belum stabil. Dimana, harga saham-saham masih terus ber-fluktuatif. Sehingga dibutuhkan sumbangsi dari masyarakat untuk tetap percaya kepada paket stimulus ekonomi yang dikeluarkannya. dan mencegah spekulasi terhadap mata uang dalam negeri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar